Arena Hidup Mati

Beberapa hari terakhir, keluarga saya dirundung duka. Malaikat maut menjemput berturut dua saudara terkasih hampir bersamaan. Satunya opa berusia 86 tahun. satunya ibu berusia 52 tahun. satunya meninggal karena usia, satunya meninggal karena penyakit. Namun dua-duanya sama sama meninggalkan tangis. Tangis pilu bagi yang ditinggalkan.

Cerita pilu data
ng dari adik si Ibu yang meninggal. Katanya sebelum meninggal dia sudah merapihkan baju-bajunya, menaruh dalam tas plastic. Katanya sebelum meninggal dia sudah berfoto sendiri dan mencetak 10 R yang kelak digunakan sebagai foto yang ditaruh di samping jenazah. Mungkin sudah merasa, mungkin Si Malaikat sudah mengintai lama.

Hidup dan mati kemudian seperti masuk arena bermain. Semua kita adalah pemain baru. Dan permainannya pun tak ada yang tahu. Yang kita lakukan hanyalah bermain dan bermain. Entah salah, entah benar, wasit yang akan meniup peluitnya. Sampai kapan bermain? Hanya pelatih yang tahu. Dia akan memintamu keluar dari arena, jika dirasanya kau sudah selesai. Bukan keluar dan selesai. Tapi keluar untuk melanjutkan permainan di arena yang lain. Entah apa. Entah dimana. Siapa yang tahu.

Dan yang kita lakukan saat
ini, hanyalah bermain sebaiknya, bermain tanpa kecurangan. Agar pemain lainnya juga mengenal kita sebagai pemain yang baik, tak harus jago. Cukuplah menjadi yang baik. Agar ketika kita keluar dari arena, mereka masih mengingat kita, dan cerita yang kemudian bergulir dari mulut ke mulut adalah banyak hal baik. Ingat teman bermain satu tim kita, janganlah mereka yang menunduk ketumpahan getah akibat kecurangan kita.

Ketahuilah dalam arena itu, ada fotografer yang diam-diam memotret. Tanpa kau dapat memilih bagian mana yang patut dipotret dan aib apa yang sekiranya dilupakan. Dia memotret secara acak dan kemudian menciptakan kenangan. Sebuah pigura besar berisi potongan gambar kehidupan kita. Yang kita bisa lakukan hanyalah, berpose sebaiknya. Memainkan peran dengan sungguh selayaknya aktor professional. Yang tetap bermain tanpa dibayar.

Ahh… semakin dipikir, semakin abstrak saja kehidupan dan kematian. Dan anehnya, dua peristiwa besar itu lebih sering diiringi air mata. Tak ada bukan, yang tertawa terbahak ketika anaknya baru saja lahir. Yang ada hanya tangis haru dan tangis bayi. Jika demikian, jika diawali dan diakhiri oleh tangis, maka diantaranya, isilah dengan tawa. Sebanyak-banyaknya, sesering yang kamu bisa. Karena tak pernah ada yang tahu, bahwa setelah matipun kau dapat tetap tertawa.

Sandra

19 Februari 2012

Teruntuk mereka yang telah perg
i. Pergi sebagai pemenang. Bagaimanapun, hidup tak pernah mudah untuk dijalani, dan barangsiapa yang kemudian pergi, tak ada kata lain selain selamat. Selamat, kamu mengakhiri dengan baik. Baik pun sudah cukup. Karena sekali lagi, hidup tak pernah mudah.

Malam semakin dingin setelah hujan

Hujan sedang ada dimana-mana

Tak terkecuali di hati ini

Perbincangan Tiga Makhluk

PERBINCANGAN TIGA MAKHLUK

Dua semut pekerja sedang bercakap di sarang mereka
Semut1 : “Bagaimana hari ini? Kamu tampak lelah?”
Semut2 : “Err iya, lelah tapi puas”
Semut 1: ” Dapat banyak makanan ya?”
Semut2: “Lumayan, sebelas kali bolak balik. Sebenarnya sudah biasa bolak balik sebanyak itu. hanya saja kali ini lebih jauh perjalanannya”

Semut1: “pantasan saja mukamu kelelahan seperti itu, Ya sudah sekarang, beristirahatlah, lumbung kita masih belum penuh, besok kita akan bekerja keras lagi”.
Semut 2 mengangguk, tak lama mata menutup sayu dan pulas.

Dua orang manusia bercakap melalu telepon selular
Manusia1 : “Ehh gimana, tugasmu yang itu udah selesai? Ga kerasa ya, deadline nya udah dekat banget”
Manuisa2 : “Belum nih, nyari bahan aja baru dapat dikit, gimana mau ngerjain. Masih malas aku. nanti nanti aja deh kalo udah mepet. Btw, kamu udah ta?”
Manusia1 : “ahh syukur deh ada temennya. hehehe. tenang aku jga belum.”
Manusia2 : “Iya nanti aja, ni aku lagi nonton film yang kemaren kubeli, lucu banget”
Manusia1 : “Mau dong pinjam”
Manusia2 : “Sipp, udah ya lagi seru nih” Tut tut tut

Dua malaikat sedang berbincang di taman sorga
Malaikat1 : “Gimana perjalananmu hari ini? “
Malaikat 2 : ” Seperti biasa, mengelilingi bumi, sampai ke negara yang rawan bencana alam, melihat lihat manusia disana, dan mengamati perilaku seseorang. Sepertinya dia adalah pelajar.”

Malaikat 1 : “Lalu apa yang kau analisa?”
Malaikat 2 : “Ahh, semoga tidak banyak orang seperti dia. Dia mengawali harinya dengan terburu, karena bangun telat akibat menonton film sampai larut. Yang dilakukannya adalah, langsung menyambar handuk, mandi dan bersiap ke tempat menuntut ilmu. Lalu karena tergesa, dia melupakan dompetnya dan mulai keluhan pertama. Dan berlanjut dengan keluhan keluhan lain. Cuaca yang panas lah, tugas dari pengajar, perutnya yang keroncongan. Tak hanya itu, seharian mulutnya aktif memproduksi kata kata mengejek, bergosip sedangkan tangan dan kakinya kurang bergerak untuk bekerja. Tugasnya banyak tapi tak segera diselesaikan.”

Malaikat 1 : menggelengkan kepala, tak menemukan kata yang tepat untuk berkomentar
Malaikat2 : “Padahal mereka manusia, diciptakan dengan begitu sempurna. Diberi akal budi. Jika kurang hikmat, mereka tinggal minta, diberi kecerdasan dan kesempatan untuk menjadi makhluk tertinggi yang paling disayang oleh Bos. Tapi kenapa mereka tidak menyadari itu?”

Malaikat 1 : “sudahkah kau laporkan temuanmu kepada Bos?”
Malaikat 2 : “Sudah. Si Bos hanya mengatakan , ‘Mereka sudah kuberi anugerah Hidup. Hidup mereka adalah Kesempatan, Pilihan dan Ujian. Biarkan mereka hidup dengan keputusan mereka, toh, mereka sudah tahu, setiap pilihan akan membuahkan hasil sendiri. Karena sesuatu yang baik dan benar akan menghasilkan kebaikan dan kebenaran pula, demikian sebaliknya. Semua mereka sudah Ku berikan talenta, dan suatu saat nanti, AKU akan menagih buahnya.”

Malaikat 1 : ” Jadi haruskah manusia kita peringatkan?
Malaikat 2: “Mereka sudah tahu hanya tidak mau”
Berdua mereka terdiam. Malam di Surga yang indah, untuk sesaat ikut merasakan senyap diantara mereka.

PS: kadang sebagai manusia saya malu. Malu kepada pencipta dan kepada makhluk lain.

Pengabdian Ibu

Ibu itu datang dengan mata kiri lebam. Ada genangan merah di bola matanya. Awalnya kupikir korban kekerasan dalam rumah tangga. Dia tidak sendiri, tangannya memegang tangan seorang lelaki. Lelaki yang tinggi besar, muka acak acakan, yang selalu tertunduk, dan wajah merengut terus. Sesekali menoleh ke ibu itu dengan ekspresi wajah hanya-mereka-yang-tahu kemudian kembali merenggut, menunduk, menarik narik tangan ibunya.

Aku tidak punya waktu banyak. Ini pengobatan massal, banyak pasien lain di luar sana. ‘ada apa ibu?’. Tanyaku, pertanyaan umum yang diberikan seorang dokter kepada pasien. Seperti sudah terprogram di otakku untuk menanyakan itu sebagai pembuka pembicaraan. Namun pertanyaan sederhana dengan kata kata yang biasa itu, ternyata berdampak besar buat si Ibu.

Dia terlihat kebingungan harus mulai dari mana. Apa dari matanya, atau dari badannya yang linu linu, atau tentang hatinya yang capek, atau sakitnya laki laki yang sedang di pegang tangannya itu.

Sehingga saat itu, aku langsung tahu, sebenarnya yang diperlukan ibu itu bukan obat tablet, suntik, atau salep, dia hanya butut telinga. Telinga seseorang yang paham akan sakitnya komplikasi hidup yang sedang dia derita. Jadi aku, mencondongkan badanku ke depan meja, melipat kedua tanganku di meja, memasang mata yang empati. Dan cerita dia mengalir.

Pagi itu, si ibu berencana membawa anaknya ke pengobatan massal, karena sudah 3 hari ini Danu, nama anaknya, batuk batuk. Tapi seperti biasa, Danu selalu menolak jika mendengar kata berobat. Mungkin trauma karena sejak dia bisa mengingat, selalu dikelilingi mereka yang berpakaian putih putih. Danu melancarkan aksi pagi itu, jika dia di paksa, menjerit sambil mengeraskan tubuhnya.

Andai danu berusia 2 tahun, mungkin tak ada kesulitan bagi si ibu untuk memaksanya. Tapi Danu telah tumbuh menjadi anak atau masih pantaskah di sebut anak, berusia 22 tahun. Kata dokter, danu memiliki tubuh dewasa dengan kepribadian anak anak yang terperangkap di situ. Selamanya danu akan seperti anak kecil, yang hidup dalam dunianya sendiri, dengan tubuhnya yang akan mengikuti pertumbuhan normal, semakin besar dan kuat.

Jadi pagi itu, si ibu dengan susah payah, membujuk danu untuk bersiap ke sini. Danu tetap mengelak. Akhirnya ibu dengan kekuatan nya yang sudah mulai melemah termakan usia. Menyeret Danu ke kamar mandi, untuk membilas tubuhnya. Danu tetap berkeras, ibunya memukul, danu menangis. Danu semakin menjadi, tangannya mengibas ke kanan dan kekiri dengan kekuatan seorang lelaki dewasa, dan, tangan kanannya mengenai mata ibunya. Si ibu langsung terduduk, memegangi matanya yang sakit berdenyut.

Danu sadar telah melukai. Berhenti memberontak dan sekarang duduk menangis. Antara marah dan sakit ibunya duduk di kursi sambil memegangi matanya. Ini bukan pertama kali. Tapi tetap saja hatinya sakit jika dipukul anak sulungnya. Nafasnya memburu. Kemarahan semakin menyesak. Dia menangis.

Sehingga di pojok kamar mandi itu, menangislah ibu dan anak dengan alasan berbeda. Si anak menangis karena tidak mau di ajak berobat. Si ibu menangis karena hati yang letih. Letih mengurusi seorang anak autis selama 22 tahun. Letih mengadu kepada Tuhan mengapa harus dia. Sehingga sepanjang 22 tahun ini, hidupnya mengabdi untuk mengurus anaknya. Tak lagi bekerja sepanjang hari. Danu tak bisa ditinggal lama. Meski begitu, dia masih menerima pukulan tak sengaja dari danu, selalu, dan tak diduga.

Jadi pagi itu, dengan niat dia awalnya berobat batuk untuk si Danu, menjadi bertambah keluhan utamanya. Mata lebam, badan pegal karena perkelahian itu, dan selalu hati yang letih.

Ceritanya mengalir, kadang terpotong. Tapi dia terus berbicara. Aku mendengar. Dia tak perlu obat, dia hanya butuh telinga. Mungkin penguatan. Tapi teori macam apa yang bisa kuberikan. Toh, aku juga tidak punya pengalaman mengurus anak autis sehari sekalipun. Ibu itu sudah kuat. Kuat bertahan 22 tahun. Tidak perlu penguatan.

Pada akhir ceritanya dia berkata, ‘yah mau gimana lagi dok, saya terima saja’. Kalimat penutup itu, membuat aku mengerjap mata, karena aku tak boleh menangis di hadapan pasien

Aku mengacak rambut si Danu,berkata : ‘Danu, jangan nakal lagi ya’. Danu tetap tertunduk, tak ada reaksi, dan kembali menarik tangan ibunya. Aku member resep obat batuk buat danu, vitamin buat ibu. Meski aku tahu vitamin seberapa besar dosisnya sekalipun, tak akan dapat membantu pegal hati yang dia rasa.

Dia menyalamiku, ‘makasi dok’. Aku berkata: ‘ibu hebat ya, tetap kuat’. Ibu mengangguk. Aku terdiam. Beberapa saat aku terenyak di kursi. Berpikir tentang ibu itu dan membandingkan dengan aku. Berpikit tentang kekuatan wanita yang terpancar lewat pengabdian tanpa pamrih, dengan bonus pukulan dan tendangan.

Pengabdian 24 jam sehari 7 hari seminggu selama 22 tahun. Betapa aku begitu lemah dibanding si ibu.

Dalam hati aku hanya berdoa,

‘semoga Tuhan dengan kekuatannya yang ajaib dapat memberkati si Ibu, memberi penguatan, dan menjadi penopang kala si ibu lelah menjadi ibu.

Pengobatan gratis, 17 mei 2011 Cerita bukan fiksi

Burung gereja mengajari bernyanyi

Kebaktian di gereja berlangsung seperti biasa kemarin. Saya terberkati dengan firman maupun pujian yang dibawakan. Pada saat tangguh persembahan diedarkan dan kami mengiringinya dengan pujian, barulah saya menyadari kehadiran mkhluk itu yang entah sejak kapan ada disana .

 

Mereka berdua terbang dengan bebas diatas sana, seakan ikut menikmati alunan lagu dari jemaat. Sesekali bertengger pada lampu lampu gantung, kemudian terbang lagi sekeliling ruangan dan kemudian hilang dari pandangan saya.

Kenapa mereka tidak diusir? Bayangkan jika anjing maupun kucing atau kelelawar yang masuk ke ruang kebaktian. Pasti akan berbeda. Mungkin jemaat, majelis, pendeta sudah sangat biasa dengan kehadiran makhluk itu, sehingga kehadiran mereka tidak mengurangi kekhusyukan kami melaksanakan ibadah mingguan.

Siapa mereka? Siapa lagi kalau bukan burung gereja.

 

Kenapa dinamakan burung gereja? Ada banyak yang mencoba menjelaskan, ada yang bilang konon banyak ditemukan di gereja gereja model eropa yang tinggi dan mereka membuat sarang disana. tapi pada kenyataanya, burung gereja dapat ditemukan di mana saja, tidak harus di gereja. Ada juga yang bilang, kebiasaan burung yang suka menyanyi seperti orang Kristen dalam gereja, kalau yang ini saya lebih sepakat. Tapi apapun itu, namanya adalah burung gereja dan tidak akan diganti. Nama ilmiahnya adalah Passer montanus.

Dalam perjalanan pulang dari gereja, saya melamun,

Jika saat kebaktian berlangsung, para jemaat sedang tampak bernyanyi dan burung gereja berkicau, Tuhan lebih menikmati yang mana?

Karena terkadang atau bahkan sering sekali, pujian yang saya nyanyikan hanya sekedar melagukan teks di LCD tanpa sepenuh hati ikut bernyanyi.

Terkadang atau bahkan sering, saya ikut memuji karena sudah ada pemimpin pujian yang mengajak saya untuk bernyanyi, walaupun selama bernyanyi mungkin pikiran lari kesana kemari.

Terkadang suatu puian yang dilagukan hanya untuk pelengkap suatu liturgy tanpa ada minat untuk melagukan dari hati.

Coba perhatikan burung gereja. Mereka bernyanyi karena mereka ingin bernyanyi. Mereka berdendang karena sejatinya keseharian mereka dipenuhi dengan nyanyian, tak hanya hari minggu

. Kenapa saya, yang jauh dikasihi Tuhan lebih daripada burung gereja, yang sudah merasakan kasih Tuhan yang luar biasa, masih enggan untuk bernyanyi dengan sungguh. Padahal tidak juga setiap saya bernyanyi.

Jadi terima kasih burung gereja, melihat kamu, sekarang saya jadi ingin bernyayi untuk Tuhan.

Karena, biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN.

November 2011

Kamu buat aku

Kamu buat aku.

Kamu bagiku lebih dari sekedar pengingat makan malam, walaupun pada dasarnya aku suka menunda makan.

Kamu bagiku lebih dari sekedar teman bersaat teduh, walaupun tanpa kamu yang setiap pagi menemani bersaat teduh, aku mungkin tidak serajin itu.

Kamu bagiku lebih dari seorang pendengar yang baik, walaupun harus kuakui, aku belum pernah menjumpai yang bisa mengerti aku selain kamu.

Kamu bagiku lebih dari seorang pemerhati, walaupun tak bisa dipungkiri, perhatian kamu sangat detil terhadap setiap hal remeh dariku.

Kamu bagiku lebih dari seorang teman makan, walaupun pastinya lebih menyenangkan makan berdua daripada sendirian.

Kamu bagiku lebih dari penasihat, walaupun setiap perkataanmu umumnya benar adanya.

Kamu bagiku lebih dari seorang penghapus sepi, walaupun kamu tahu seperti aku juga tahu, betapa waktu bergulir sangat cepat jika kita bersama.

Kamu bagiku lebih dari sekedar pembangkit semangat, walaupun tanpa kamu aku harus mengayuh semangat dua kali lebih tenaganya.

Kamu bagiku lebih dari penghilang rindu, walaupun kata rindu itu sendiri tak bermakna jika aku tak kenal kamu.

Kamu bagiku lebih dari mood booster, walaupun seringkali galau hilang karena kamu.

karena…

Kamu bagiku adalah segalanya.
Kamu bagiku adalah bangun tidur, sepanjang hari dan menutup mata.
Kamu bagiku adalah kemarin, hari ini dan semoga besok.
Kamu bagiku adalah teman terkasih, sahabat terbaik, dan belahan jiwa.
Kamu bagiku adalah rindu, cinta, memiliki, kebutuhan.
Kamu bagiku adalah inspirasi tak berujung
Kamu bagiku adalah teman bertumbuh dalam iman
Kamu bagiku adalah calon pemimpin yang kelak kupercayakan hidupku.

Jadi tolong, tetaplah disampingku.
karena dengan bersama, tak ada lagi aku dan kamu, yang ada hanya kita.

Aku mengasihimu.

-sandra-
Pertengahan september 2011

Untuk : YNS

Bunga

Setangkai bunga diletakkan diatas meja. Tiga orang mengamati.

Orang pertama mengambil bunga itu menaruh di dalam vas yang diisi sedikit air, meletakan kembali kemudian pergi.
Orang kedua memandang vas dan bunga itu mengambil kamera dan menjepretnya, kemudian dia juga pergi.
Tinggallah orang ketiga yang sedari tadi hanya memperhatikan dan mengamati bunga itu tanpa berbuat apa apa. Jam berdetak melaju, jarum pendek juga sudah bergerak banyak, tapi dia masih saja mengamati. Semakin lama dilihat dan dinikmati bunga ini tampak semakin hidup. Sekarang dia melihat kehidupan dalam setangkai bunga itu. Kelopaknya berwarna cerah dengan lekuk lekuk yang molek. Menyatu dibagian tengah bunga dan menyebar indah diatasnya.

Dia mendekati bunga indah itu, membauinya perlahan sambil menutup mata, seolah b unga akan bangkit dari tidur panjangnya jika terlalu kasar. Semerbak bunga mengisi rongga hidungnya. Memberi stimulus pada saraf penciuman dan membawa pesan ke otak, otak mentranslasikan pesan itu dan mengabarkan ke seluruh tubuh, bahwa bau yang dicium itu wangi.

Agak lama dia menikmati aroma bunga. Sambil tetap terpejam dan tersenyum kecil. Pemandangan yang aneh, seorang pemuda sedang duduk dilantai menghadap meja, dan membaui bunga sambil menutup mata dan tersenyum. Dia tak peduli.

Sekarang dia kembali menikmati bunga itu. Memandang tak bosan pada setangkai bunga itu. Dengan perlahan dikecupnya bunga itu. Diambilnya hati hati vas berisi bunga itu sambil menjaga agar bunga tidak terlalu bergetar, dia sendiri tak tahu apa yang terjadi jika bunga terlalu berguncang, dia hanya tak ingin menyakiti bunga cantik itu, dia hanya ingin bunga merasa nyaman.

Seorang gadis yang sedari tadi bersembunyi sambil mengamati gelagat si pemuda, tersenyum. Bungaku aman di tangan dia, pikir si gadis. ‘jika bunga yang hanya bagian remeh dari hidup aku diperhatikan dengan betul seksama olehnya, semoga hati dan diri ini dijaganya lebih dengan hormat lagi’.

Gadis berbalik. Keyakinannya semakin dipertegas. Itu cinta.

Awal September 2011
Buat kamu : terima kasih untuk setiap hal remeh yang tak luput dari perhatian.

Time healing?

‘Time didn’t heal, but it anesthetized. The human mind could only feel so much.’

Quote diatas saya kutip dari status fb seorang teman, yang juga dikutipnya dari sebuah sumber.

Sebagai seorang dari lingkungan medis, jahit menjahit luka (kami menyebutnya hecting) bukan sesuatu yang asing. Saya akan sedikit memberi gambaran tentang proses hecting tersebut.

Mengapa suatu luka terbuka harus dijahit? Agar luka lebih cepat menutup. Agar jaringan yang terputus cepat menyambung. Agar bekas luka lebih ‘rapih’. Agar terhindar dari infeksi sekunder akibat luka yang menganga.

Setelah luka dibersihkan dengan normal Saline, sementara itu alat alat hecting meliputi jarum, benang jahit, klem, needle holder, kasa, duk steril,sarung tangan, obat anastesi, spuit, disinfektan , disiapkan. Luka pun disterilkan dengan disinfektan sebelumnya sudah dipasang duk steril. Apa langsung dijahit? Tidak karena pastinya sakit sekali. Sangat menyakitkan. Sehingga diperlukan obat bius lokal yang disuntikan disekitar area luka, sehingga saat jarum jahit menyentuh dan menusuk kulit dan jaringan dibawahnya tidak lah terasa. Jika saat menjahit dan pasien merasa kesakitan karena efek obat yang mulai habis, kami pun kembali menyuntikan obat anastesi itu.

Begitulah fungsi dari anastesi lokal tersebut. Penghilang nyeri. Membantu efektivitas proses hecting. Tapi bukan proses utama dari penyembuhan luka tersebut.

Waktu setelah saya resapi kalimat diatas juga seperti itu. Waktu tidak menyembuhkan, tapi hanya sebagai penghilang rasa. Sementara.

Misalnya suatu kali kelak, A disakiti oleh B. Kurang spesifik, misalnya A dipermalukan didepan umum oleh B yang padahal adalah teman dekatnya. Ada luka terbuka, menganga di hati A yang disebabkan oleh B. A pun menjauh dari B. mengambil jarak dalam pertemanan. Sedapat mungkin menghindari pertemuan atau keterlibatan dengan B. Waktu berjalan, kejadian tersebut seperti sudah hilang.

Bagaimana kondisi hati A? Luka tersebut memang sudah kering, tapi hati A terhadap B tidak pernah sama. Bekas luka masih terlihat jelas. Bayangkan luka yang mengeras bersama dengan darah yang tidak dibersihkan.

Dalam suatu kesempatan, A kembali dipertemukan dengan B. Bagaimana reaksi A? Luka yang sudah kering tersebut seperti kembali tergores pisau. Sakitnya terulang. Masih mengganjal dan menyesakkan dada setiap kali A memandang B. Persahabatan mereka hanya cerita lama.

Begitulah jika kita hanya mengandalkan waktu untuk menyembuhkan luka.

Lalu, apa yang bisa menyembuhkan?

Seperti juga hecting yang adalah tindakan aktif dalam menjahit luka. Kita pun perlu tindakan aktif untuk memaafkan. Untuk mengampuni. Harus ada kata yang terlontar dari mulut yang mengalir dari hati untuk memberi maaf, barulah proses penyembuhan dimulai. Harus ada samudera yang luas untuk melepaskan dendam dan tanah yang subur untuk menanam kasih.

Dan dibantu dengan doa, waktu serta pengampunan, saya percaya luka akan sembuh, hanya meninggalkan bekas jahitan yang rapih. Tidak mungkin bersih semulus sebelumnya. Kita manusia yang punya memori, tapi kita juga diberi hikmat untuk memilih mana memori yang pantas dikenang, mana memori yang sebaiknya tidak dikeluarkan.

tidak mudah. Seperti proses hecting, ada kesakitan, airmata yang keluar ketika disuntikan obat bius, ketidaknyamanan saat dijahit, dan lain sebagainya. Mengampuni juga tidak semudah mengiyakan ajakan makan malam. Ada pergumulan luar biasa dalam batin. Antara gengsi yang beradu dengan sakitnya hati, serta kerinduan untuk hidup damai seorang akan yang lain. Tapi, bukan berarti tidak dapat dilakukan.

Jadi, jangan hanya mengandalkan waktu untuk menyembuhkan luka hati. Mengambil waktu untuk menenangkan diri ketika disakiti, itu penting, tapi sekali lagi tidak menyembuhkan.

Sandra

Terinsprasi dari status EB.