Beberapa hari terakhir, keluarga saya dirundung duka. Malaikat maut menjemput berturut dua saudara terkasih hampir bersamaan. Satunya opa berusia 86 tahun. satunya ibu berusia 52 tahun. satunya meninggal karena usia, satunya meninggal karena penyakit. Namun dua-duanya sama sama meninggalkan tangis. Tangis pilu bagi yang ditinggalkan.
Cerita pilu data
ng dari adik si Ibu yang meninggal. Katanya sebelum meninggal dia sudah merapihkan baju-bajunya, menaruh dalam tas plastic. Katanya sebelum meninggal dia sudah berfoto sendiri dan mencetak 10 R yang kelak digunakan sebagai foto yang ditaruh di samping jenazah. Mungkin sudah merasa, mungkin Si Malaikat sudah mengintai lama.
Hidup dan mati kemudian seperti masuk arena bermain. Semua kita adalah pemain baru. Dan permainannya pun tak ada yang tahu. Yang kita lakukan hanyalah bermain dan bermain. Entah salah, entah benar, wasit yang akan meniup peluitnya. Sampai kapan bermain? Hanya pelatih yang tahu. Dia akan memintamu keluar dari arena, jika dirasanya kau sudah selesai. Bukan keluar dan selesai. Tapi keluar untuk melanjutkan permainan di arena yang lain. Entah apa. Entah dimana. Siapa yang tahu.
Dan yang kita lakukan saat
ini, hanyalah bermain sebaiknya, bermain tanpa kecurangan. Agar pemain lainnya juga mengenal kita sebagai pemain yang baik, tak harus jago. Cukuplah menjadi yang baik. Agar ketika kita keluar dari arena, mereka masih mengingat kita, dan cerita yang kemudian bergulir dari mulut ke mulut adalah banyak hal baik. Ingat teman bermain satu tim kita, janganlah mereka yang menunduk ketumpahan getah akibat kecurangan kita.
Ketahuilah dalam arena itu, ada fotografer yang diam-diam memotret. Tanpa kau dapat memilih bagian mana yang patut dipotret dan aib apa yang sekiranya dilupakan. Dia memotret secara acak dan kemudian menciptakan kenangan. Sebuah pigura besar berisi potongan gambar kehidupan kita. Yang kita bisa lakukan hanyalah, berpose sebaiknya. Memainkan peran dengan sungguh selayaknya aktor professional. Yang tetap bermain tanpa dibayar.
Ahh… semakin dipikir, semakin abstrak saja kehidupan dan kematian. Dan anehnya, dua peristiwa besar itu lebih sering diiringi air mata. Tak ada bukan, yang tertawa terbahak ketika anaknya baru saja lahir. Yang ada hanya tangis haru dan tangis bayi. Jika demikian, jika diawali dan diakhiri oleh tangis, maka diantaranya, isilah dengan tawa. Sebanyak-banyaknya, sesering yang kamu bisa. Karena tak pernah ada yang tahu, bahwa setelah matipun kau dapat tetap tertawa.
Sandra
19 Februari 2012
Teruntuk mereka yang telah perg
i. Pergi sebagai pemenang. Bagaimanapun, hidup tak pernah mudah untuk dijalani, dan barangsiapa yang kemudian pergi, tak ada kata lain selain selamat. Selamat, kamu mengakhiri dengan baik. Baik pun sudah cukup. Karena sekali lagi, hidup tak pernah mudah.
Malam semakin dingin setelah hujan
Hujan sedang ada dimana-mana
Tak terkecuali di hati ini